Lechoy Gamas

Disini, aku menulis tentang rasaku. Rintihan kenangan, bisikkan kerinduan, lelucuanku. Mencoba memvisualisasikan ragamu, sifatmu dan cintamu.


Semua bebas di copy paste (kalau kamu tidak tahu malu) tanpa syarat dan ketentuan apapun, semua artikel, puisi, kutipan dan gambar tidak perlu kamu percaya, berkeluh atau menentang bathinmu..anggap saja ini dongeng,mitos, humor, kisah sedih atau apapun itu menurut mu. Karena jika kamu percaya kehidupan kamu akan berubah karena aku. Kamu harus menjadi diri sendiri. Seperti aku tak menjadi dirimu, dirimu tak menjadi diriku.

"SELAMAT MENIKMATI TULISAN SEDERHANA INI"
Recent Tweets @lechoygamas
Mencari-cari pengakuan itu terkadang memuakan. Mestinya jalani hidup apa adanya, tidak perlu mengharapkan cermin-cermin hidup mengakui. Biarlah waktu yang memberi pengakuan.
2 plays [Flash 9 is required to listen to audio.]
Kenny Rogers

Lady by Kenny Rogers

Songwriters: TRICE, OBIE / MATHERS, MARSHALL B. III / RESTO, LUIS EDGARDO


Lady, I’m your knight in shining armor and I love you
You have made me what I am and I am yours
My love, there’s so many ways I want to say I love you
Let me hold you in my arms forever more

You have gone and made me such a fool
I’m so lost in your love
And oh, we belong together
Won’t you believe in my song

Lady, for so many years I thought I’d never find you
You have come into my life and made me whole
Forever let me wake to see you each and every morning
Let me hear you whisper softly in my ear

In my eyes I see no one else but you
There’s no other love like our love
And yes, oh yes, I’ll always want you near me
I’ve waited for you for so long

Lady, your love’s the only love I need
And beside me is where I want you to be
‘Cause, my love, there’s something’ I want you to know
You’re the love of my life, you’re my lady

shared from exfm

Fanatics make the fatal mistake of taking specific bits of reasoning, that serve their own twisted minds, out of context.

Di stasiun kereta api senja itu. Seorang wanita duduk seorang diri dideretan bangku panjang untuk menunggu kereta dan lalu membawa ia pergi ke suatu tempat. Tidak berapa lama ia duduk, seorang pria asing datang dan duduk disebelahnya. Pria ini sedang mengunyah roti tawar dimulutnya, sambil ia memperhatikan sekitarnya, ia gelisah dan selalu bergerak di samping wanita yang telah duluan duduk dibangku itu. Wanita itu melirik, tapi tidak berani menoleh. Namun pria itu menyadari bahwa kegelisahannya mengganggu wanita yang duduk disebelahnya. Dan dimulailah percakapan mereka:

Pria : Ehem! Maaf….Kamu merasa terganggu? Kalau iya, saya akan pergi saja.

Wanita: “Oh..tidak..” Sembari tertunduk dan tak berani menoleh, hanya melirik.

Pria: Mm..Kamu cantik…Boleh saya foto? Saya jurnalis..

Wanita: “Jangan, mas! Saya tidak mau…”

Pria: Baiklah, maaf…kamu kenapa terlihat tegang? apa saya aneh? anggap saja saya teman lama, karena kita bertemu cuman sekali ini saja.

Wanita: “Mengapa kamu berbicara seperti itu?”

Pria: Dari awal saya duduk disini, saya sudah terkesan dengan kamu. Saya terkesan dengan wewangian yang kamu kenakan. Saya terkesan dengan dua bola mata dibawah alis tebal, saya terkesan dengan wajah meronamu.

Wanita: “Lalu?”

Pria: Justru itu saya tidak ingin berkenalan. ‘Lalu memalingkan wajah…’

Wanita: “Angel, nama kamu siapa?” Sembari mengulurkan tangan..

Pria: Hm..Kalau kita saling kenal dan tidak lagi bertemu, itukan hanya menyisahkan bayangan. ‘Mengacuhkan uluran tangan Angel…’

Wanita: “Mengapa kita tidak mencoba saling mengenal dan berusaha untuk bertemu?”

Pria: Karena pertemuan pertama akan menyisahkan rasa penasaran dan pertemuan kedua akan menyisahkan rasa rindu.

Wanita: “Maksudnya?”

Pria: Biar takdir yang akan mempertemukan kita, saya akan mengingat wajahmu, kalaupun suatu saat kamu tidak bisa mengingat wajah saya, yang penting saya mengingat nama..Angel.

Wanita: “Semoga kita bertemu lagi..”

Pria: Semoga Tuhan mempertemukan kita lagi..!

Lalu terdengar suara kereta api dari kejauhan, semakin mendekat, semakin bising di telinga. Wanita itu menoleh kesampingnya dan kaget. Pria disampingnya telah pergi, ia mendapat sebuah buku yang di halaman pertama saat ia membuka, bertulis: “Kita akan bertemu lagi, karena pertemuan dan perpisahaan bukanlah akhir dari sebuah cerita”

Terinspirasi dari sebuah film. Saya lupa judulnya..karena film ini sangat berkesan dan inspiratif, dialog dua pemeran di film tersebut melekat di ingatan saya selalu. Cuman dialognya ada yang saya rekayasa dan disesuaikan dengan imajinasi saya yang egosentris.

By: 

Andai bayangan indahmu dapat ku tangkap, akan ku siasat menjadi sebuah arca emas bersusun permata, duhai segumpal hati, bahagialah si empunya.
Lechoy Gamas

Saya terkadang tertawa baca twit sendiri. Seakan menyelami sisi lain dan mengkoreksi sifat yang merugikan. Meng-intropeksi diri sendiri, memuji diri sendiri, senyum sendiri, merasa hebat sendiri, merasa pintar sendiri, merasa romantis sendiri. Padahal jauh dari kesemuanya itu saya orang yang melankolis, mudah untuk merasa iba. Tidak ada yang spesial dari diri saya dan saya tidak ingin dianggap spesial, karena saya bukan nasi goreng.  Saya hanya ingin menjadi orang yang biasa. Biasa banyak uang, biasa banyak teman, biasa punya pasangan yang ideal, pokoknya yang biasa-biasa saja. 

Saya terkadang terlihat santun berkata, padahal kenyataannya, kalau lagi kesel dan sebel sama orang yang sangat menjengkelkan, saya ngomongnya: Anjing! Ngentot! Fuck! Shit! Bitch! Kutu kupret!

Ah…banyak lagi makian, tidak bisa disebut semuanya. Namanya juga munafik. Bertopeng kesantunan, padahal tidak ada santunnya.

“Mempermalukan diri sendiri itu terkadang bagus, agar sadar diri, bahwa kita tidak sempurna. Setidaknya bisa jujur sama diri sendiri.” Kalimat ini membenak di sanubari saya.

Satu kata yang susah dilakukan, tapi sangat mudah diucapkan walaupun dengan berbohong adalah JUJUR.

Jujur dengan diri sendiri aja gak bisa. Apalagi sama orang lain.

Diluar sana ada beberapa orang yang bertopeng. Entah itu siapapun. Mereka hanya perlu sadar. Bahwa menjadi diri sendiri itu lebih baik. 

Terkadang saya tertawa saat bisa membuat kata-kata bijak atau membaca beberapa kata bijak dari orang lain, maksudnya untuk berbuat baik (esensi dari kata bijak). Tapi dalam diri sendiri belum tentu sesuai dengan kata-kata tersebut. Begini, hidup kita terkadang tidak sesuai dengan “kata-kata bijak”, karena permasalahan hidup tiap individu belum tentu sama. Kita mudah terbuai dengan kata-kata bijak karena kita butuh orang yang menasehati kita. Menurut saya sebuah “motivasi” adalah pandangan umum, yang mengambang, hanya memberi ketenangan di bathin dan tidak sampai pada ‘titik masalah hidup’.  Kita terbuai kata-kata indah para motivator karena kita tidak mampu BERPIKIR SENDIRI dan BERTINDAK sesuai dengan cara kita sendiri.

Banyak orang juga, termasuk saya, bicara tentang Agama, norma, dogma, sejarah dan banyak hal. Tetapi hidupnya tidak memantulkan apa yang ia bicarakan. Memalukan! Kenapa memalukan? Karena dia sibuk membenarkan Agama, sementara prilaku diri sendiri tidak sesuai dengan apa yang di ajarkan Agama yaitu KEBAIKAN, saling MENGASIHI SESAMA MANUSIA. Bahkan Agama mencerminkan keegoisan dan kefanatikan para penganutnya dengan membenci penganut Agama lain dan sebaliknya. Belief System berdasarkan logika Agama itu terkadang memuakan, karena logika yang dia pakai itu terbalik. Percaya dahulu, baru mencari tahu. Bukan mencari tahu, barulah percaya. Yang benar adalah Rasionalitas, Empirisme lalu Iman. Ini menurut saya. 

Saya tahu mempelajari Agama itu proses. Tetapi ‘proses’ tidak menjadi alasan/dalil untuk berbuat jahat atau melanggar apa yang di ajarkan Agama. Karena Agama ada didalam hati kita. Agama bukanlah cara menebas kepala manusia dengan sebilah pedang, namun sebagai ‘cara’ kita berkomunikasi pada Sang Pencipta Jagad Raya dan berbuat baik kepada sesama manusia. Ingat! Fanatik terhadap agama akan berbuah kebencian. 

Lebih baik tidak berAgama dan tidak menganut segala dogma Agama. Jika hidup tidak sesuai dengan kesemuanya itu.

Dan itu saya! Saya bukanlah fanatik beragama, saya hanya percaya satu ideologi bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan saya. Mungkin cara berpikir saya sangat epistemologi. 

saya gak  setuju orang yang ngatur-ngatur soal “kepantasan” seseorang mau ngapain saja. Tanpa orang tersebut bercermin dulu di air comberan. Artinya ia harus berbicara sesuai dengan prilakunya. 

Mestinya kata-kata orang yang bijak dan baik itu mencerminkan atau tercerminkan dari prilakunya sendiri. Jika tidak tercermin dari prilaku dan perbuatannya, maka pantulannya akan buruk dan kata-katanya adalah Omong Kosong belaka.

Semua yang ada disekitar kita adalah pilihan. Seperti sebuah menu makanan, ada makanan yang mahal dan ada yang murah. Semua pilihan ada harga yang harus dibayar.
Kita memang aneh. Kemarin ‘adanya’ kita bisa menciptakan gelak tawa, kini dapat menimbulkan isak tangis. Kemarin surga, kini bisa saja neraka.

XD

I know if someone has a good father.

I know if someone has a good father.

Because my family is everything. Mereka bisa menjaga diri sendiri dari hal yang mereka lakukan. Bukan akibat dari hal yg saya lakukan.

Everyday I try to become even better than the day before. I try to comfort the hurt, strengthen the weak, inspire those in despair. I move forward with one painful step at a time, yet I continue forward. Giving up is never an option. I grow weary at times and the pain is intense but this is my role. Be blessed, remember your blessings, be thankful for them. Remember that pure love can heal all things and never let anyone steal your light or extinguish it.

Superficiality = You point your finger to the moon and they look at the finger. Superficiality seems to be the trend these days.
I just gave it a beginning and an end. It’s up to everyone else to write their story on the pages in between.

Scientists say that dinosaurs had small brains and very little intelligence. I wonder if they were as wrong about this as they were about Pluto (I want my planet back btw). It would be interesting to determine if their own selfishness led to their demise. If that be the case, the New Madrid should feast well. Loyalty, honor, respect, words I live by whose definitions are lost and as misused as the phrases I love you an I’m sorry.